Skip to content
Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Terapkan Konsep Kaizen Untuk Pengembangan Diri

Meskipun pada umumnya konsep Kaizen lebih banyak digunakan di perusahaan-perusahaan atau organisasi untuk mengoptimalkan Sumber Daya Manusia yang dimilikinya, konsep ini juga sebenarnya bisa diterapkan pada pengembangan diri pribadi.

Seraca harfiah “Kaizen” berarti perbaikan yang terus-menerus dilakukan atau perbaikan yang berkesinambungan. Dan karena perbaikan, berarti konsep ini mengubah keadaan sekarang menjadi keadaan yang lebih baik, dan setelah itu kembali melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. Itulah kenapa disebut berkesinambungan karena tak berhenti sampai pada titik tertentu, melainkan terus melakukan perbaikan-perbaikan mengikuti perubahan di lingkungan sekitarnya.

Dilihat dari sisi maknanya, jelas terlihat kalau konsep kaizen ini sangat universal. Ia bisa diterapkan dalam organisasi, ia juga bisa diserap untuk memperbaiki kehidupan seseorang secara individu (pribadi).

Masaaki Imai, seorang penulis Jepang yang mempopulerkan konsep kaizen ke dunia internasional melalui bukunya yang berjudul “Kaizen”, menyebutkan kalau kaizen itu justru inti sari dari pengembangan personal. “Kaizen artinya perbaikan. Lebih jauh lagi kaizen berarti perbaikan yang berkesinambungan baik mengenai kehidupan pribadi, kehidupan rumah tangga, kehidupan sosial dan dunia kerja,” ujarnya.

Lalu seperti apa penerapannya untuk pengembangan diri? Imai punya tips yang diuraikannya dalam tahapan-tahapan berikut:

1. Buang ide-ide konvensional.

Menurut Imai, pada dasarnya konsep kaizen itu di luar kebiasaan atau tak konvensional. Karena pada kenyataannya sebagian besar orang tidak melakukan perbaikan terus-menerus dalam kehidupannya. Bahkan 95 persen orang di dunia ini, tak tertarik sama sekali untuk melakukan perbaikan-perbaikan kehidupannya. Karena itu, buang ide konvensional yang menyatakan perbaikan terus-menerus itu tidak perlu, dan mulailah memperbaiki diri sevara konsisten.

2. Pikirkan bagaimana melakukannya, jangan memikirkan kenapa tidak bisa dilakukan.

Orang pesimis akan mencari segala alasan untuk menyatakan sesuatu tak bisa dilakukan. Sedangkan orang optimistis, seorang yang berpikir maju ke depan, ia akan mengetahui bahwa, jika pertanyaan “Kenapa?” itu sangat kuat, maka pertanyaan “Bagaimana?” akan datang. Karena itu kita harus fokus pada target yang ingin dicapai. Setelah itu akan bermunculan berbagai cara yang menunjukkan bahwa target yang diinginkan itu sangat mungkin bisa dicapai.

3. Jangan cari-cari alasan, mulailah menanyakan apa yang sekarang bisa dilakukan.

Sekali lagi: kembali fokus pada hasil yang ingin dicapai, kemudian take action. Tak ada alasan untuk tidak mencoba sesuatu.

4. Tak perlu sempurna, lakukan saja kendatipun itu hanya untuk mencapai 50% dari target.

Begitu kita mendapatkan kesempatan untuk mencapai target, kejarlah kendatipun itu hanya akan mencapai 50%, 80% atau berapapun angkanya dari target kita. Dalam kata lain, take action, jangan menunda-nunda. Perbaikan bisa dilakukan sambil jalan.

5. Perbaiki sekarang jika kita melakukan kesalahan.

Setelah kita sepakat dengan poin 4 di atas, kita harus mengantisipasi perbaikan-perbaikan yang mungkin diperlukan. Hal ini karena kesalahan biasanya baru disadari setelah langkah itu mempengaruhi orang lain. Ibaratnya sebuah pesawat terbang. Begitu pesawat tinggal landas dan kemudian berada di angkasa, pesawat itu sudah mengarah pada satu target. Namun dalam perjalanannya ada kalanya pesawat itu turun, atau melenceng sedikit dari arah yang dituju. Nah, di sanalah peran pilot untuk memposisikan pesawat pada arah yang sebenarnya. Hal ini sama juga dengan pengembangan diri.

6. Sikap bijaksana akan datang jika menghadapi kesulitan.

Tantangan biasanya tak diinginkan, tetapi itu merupakan kesempatan belajar yang tak terkira. Halangan datang tak terperkirakan, tetapi jika kita bisa mengatasinya maka kita tampil menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

7. Tanyakakan “Kenapa?” lima kali dan cari akar masalahnya.

Pertanyaan “Kenapa?” itu sebenarnya sangat-sangat kuat. Seperti disebutkan pada poin 2, orang yang cukup kuat bertanya ‘kenapa’ ia bisa menyelesaikan apa saja. Pertanyaan ini bisa memperkuat atau meyakinkan sesuatu atau menolong kita menemukan sesuatu. Setidaknya dengan pertanyaan ini kita akan menemukan akar masalah suatu soal. Setiap kali kita bertanya ‘kenapa?’ kita akan membuka satu tirai. Setelah itu kita aku masuk lebih dalam lagi. Setelah menemukan empat atau lima jawaban, kita akan segera tahu pada sesuatu yang sebenarnya. Coba saja!

8. Cari kebijaksanaan (wisdom) dari sepuluh orang dibanding mencari pengetahuan dari satu orang.

Banyak disebutkan bahwa kekuatan berpikir dari suatu grup itu lebih baik. Mungkin inilah kenapa banyak orang suka meminta opini dari satu atau banyak orang atau bahkan mengadakan rapat, brainstorming dalam suatu kelompok. Tetapi kerap kali itu hanya sampai pada mengumpulkan banyak opini saja, dan hampir tak ada solusi.

Sebenarnya, lebih baik jika kita pergi ke seseorang yang sudah terbukti berhasil menjalankan sesutu seperti yang kita inginkan. Bahkan sekarang caranya bisa lebih sederhana. Kita bisa buka internet atau sumber-sumber lain yang ada di sekitar kita, dari sana kita akan menemukan banyak orang sukses dari bidang yang kita inginkan. Kita bisa mempelajari tahapannya bagaimana mereka bisa sukses, bahkan kita juga bisa menyerap kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.

Selamat mencoba!

Spread the love

Leave a Comment





Scroll To Top