Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Stephen Hawking: Terbatas dan Melampaui Batas

Kaum difabel (different ability) sering diidentikkan sebagai kaum disable, atau golongan yang kurang mampu terutama untuk mandiri apalagi berprestasi. Tapi faktanya, banyak di antara mereka menjadi inspirasi, bahkan beberapa menjadi inspirasi sepanjang masa.

Mereka memang hanya manusia biasa, yang merasakan tekanan dan beban sangat berat. Namun, di balik segala kekurangan tersebut, mereka berjuang dan berhasil melewati batasan yang dimiliki. Mereka berhasil “mengalahkan” diri sendiri sehingga bisa menguatkan mentalitasnya menerima apa adanya diri sendiri. Dan, dengan kesadaran tersebut, mereka mampu meraih apa pun yang dicita-citakan, sehingga bisa jadi inspirasi bagi sekelilingnya.

Inilah nilai yang wajib kita miliki—bukan hanya bagi mereka yang tumbuh dengan kekurangan. Sebab sejatinya, kita semua punya halangan dan rintangan yang wajib ditaklukkan. Sang Pencipta memberikan ujian bukan untuk melemahkan, namun justru jadi titik tolak untuk menguatkan. Untuk itulah, mari kita belajar dari sosok dengan keterbatasan namun bisa melampaui batasannya.

Bila disuruh menyebut ilmuwan paling berpengaruh di era sekarang ini, nama Stephen Hawking bisa dipastikan berada di posisi teratas. Karyanya yang dipublikasikan pada 1988—“A Brief History of Time”—merupakan salah satu karya terpenting dalam pengetahuan dan akan terus dipelajari sepanjang masa. Teori lubang hitam dari Hawking, setara dengan teori relativitas Einstein dan teori evolusi dari Darwin.

Hebatnya, Hawking menciptakan karya-karya pengetahuan terpenting sepanjang sejarah peradaban di saat dirinya terkena sklerosis lateral amiotrofik (ALS). Penyakit yang membuatnya lumpuh dan harus mengandalkan kursi roda untuk aktivitasnya tersebut,ternyata tak menghalanginya untuk terus berkarya. Meski untuk menulis ia harus dibantu voice synthesizer yang terhubung pada sebuah komputer, tapi tekadnya sangat besar untuk terus berkarya, mengatasi keterbatasannya tersebut.

Kisah kehidupan Stephen Hawking (kelahiran Oxford, 7 Januari 1942), antara lain diceritakan dalam film “The Theory of Everything”, yang rilis November 2014. Ceritanya diangkat dari buku “Travelling to Infinity: My Life with Stephen” karya Jane, istri Hawking, dan dibintangi oleh Eddie Redmayne serta Felicity Jones.

Digambarkan, bagaimana Hawking (diperankan Redmayne) kuliah di Cambridge hingga digerogoti penyakit saraf kronis sejak usia 21 tahun. Dukungan Jane (diperankan Jones) yang tidak kenal lelah, akhirnya membuat Hawking berhasil menyelesaikan karya ilmiahnya.

Redmayne berhasil meraih penghargaan Best Actor di Academy Awards (Oscar) 2015 atas perannya sebagai fisikawan luar biasa ini.

Inspirasi dari Hawking

– Jangan menyerah dalam bekerja. Bekerja memberikan makna dan tujuan hidup. Kehidupan kosong tanpa itu.
– Selalu ingat untuk memandang tinggi ke bintang, bukan melihat ke bawah. Coba untuk mencerna apa yang kamu lihat dan tentang apa yang membuat semesta ada. Manusia hidup di planet kecil, (yang mengorbit) pada sebuah bintang yang sangat biasa. Tapi kita dapat mencoba memahami alam semesta. Itulah yang membuat kita sangat istimewa.
– Jika Anda cukup beruntung untuk menemukan cinta, ingat itu ada dan jangan membuangnya.
– Seberapa pun sulitnya kehidupan, selalu ada hal yang bisa kita lakukan dan sukses pada bidang tersebut.

(Tulisan ini diterbitkan lagi untuk mengenang mendiang Stephen Hawking yang tutup usia tanggal 14 Maret 2018 dalam usia 76 tahun. Selamat jalan fisikawan luar biasa!)

Spread the love

Leave a Comment