Skip to content
Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Seni Bicara Untuk Negosiasi Bisnis. Lidahmu, Pedangmu!

Bagaimana kita bisa mengelola kemampuan bicara, bisa menjadi pembeda dalam mencapai keberhasilan bisnis.

Dalam sebuah kisah klasik dari negeri Tiongkok, saat Raja Guo Jian pertama kali ditaklukkan oleh Raja Fu Chai, ia nyaris dibunuh. Berkat negosiasilah, dengan melibatkan orang dengan kemampuan bicara yang cerdas, lihai, dan pandai menarik hati, Raja Fu Chai berhasil dibujuk untuk tidak menghukum mati Raja Guo Jian dan hanya mengasingkannya. Inilah salah satu bukti hebat dari seni kemampuan bicara.

Jika kita melihat dari sudut pandang bisnis, kemampuan bicara memang merupakan bagian penting untuk menunjang kesuksesan. Sebab, bisa jadi, dalam usaha yang dijalankan, ia harus bisa mempertahankan dan membela suatu kebenaran saat menjual produk atau jasa. Di samping itu, ia harus bisa membedakan yang baik dan yang buruk dalam menegosiasikan kesepakatan bisnis. Selain ahli dalam seni bernegosiasi, seorang pengusaha juga harus mampu menghindari adu argumentasi yang berlebihan, karena ini bisa membuat seseorang kehilangan rasionalitas serta bahkan berujung pada kemarahan.

Kemudian, jika harus berdebat atau berargumentasi, seorang pengusaha juga harus menghindari agar tidak terjebak dalam persaingan tidak perlu. Karenanya, seni berbicara ini tidak boleh didasari dengan pandangan harus memenangkan semua adu pendapat, negosiasi, atau kesepakatan bisnis. Sebab, ada saatnya, kita harus berada pada win-win solutions. Salah satunya, yakni dengan rendah hati menarik diri dari perdebatan daripada membuat pihak lain malu. Karena, bila salah satu pihak kehilangan muka di depan yang lainnya, suatu saat, semuanya justru akan dirugikan.

Young business team during a brainstorming session

Ada beberapa hal lain yang juga harus dipahami untuk meraih kesuksesan dengan kemampuan bicara. Beberapa kondisi tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, kepada siapa kita berbicara. Bukannya membeda-bedakan, tetapi kita harus bisa selalu menempatkan diri saat harus berbicara dengan orang lain. Misalnya, bicara dengan seorang pimpinan besar perusahaan, tentu berbeda dengan rekan sejawat. Salah satu yang harus selalu diingat dalam seni kemampuan bicara—dengan siapa pun kita berbicara—adalah gunakan bahasa yang sopan dan tunjukkan rasa hormat. Misalnya, jangan mudah memotong pembicaraan orang lain dan jangan terlalu menguasai pembicaraan.

Kedua, apa yang harus kita sampaikan. Setiap yang kita sampaikan ada baiknya selalu dengan persiapan yang matang. Apalagi, jika itu menyangkut negosiasi yang harus kita lakukan. Minimal, latar belakang serta tujuan dari pembicaraan itu harus kita kuasai. Dengan kesiapan secara menyeluruh, baik bahan pembicaraan maupun apa yang akan kita katakan, kita akan memiliki kepercayaan diri tinggi saat bernegosiasi dengan siapa pun.

Ketiga, kapan harus berbicara. Ada saatnya kita perlu diam dan hanya mendengarkan, namun ada kalanya pula kita menunjukkan eksistensi kita saat harus berbicara dengan orang lain. Untuk mengetahui hal ini, kita harus pula belajar untuk tahu waktu. Untuk itu, kita perlu menjadi “pengamat” yang sensitif terhadap kondisi orang lain.

Keempat, di mana harus mengatakannya. Hal ini berhubungan dengan situasi dan tempat yang tepat. Tak jarang, sebuah negosiasi bisnis harus diselesaikan di ruangan khusus yang perlu biaya sewa cukup besar. Tapi, demi kelancaran bisnis, hal tersebut harus dilakukan. Sebab, selain memberi kenyamanan, kerahasiaan juga bisa lebih terjaga.

Kelima, bagaimana mengatakannya. Selain menjaga sikap hormat dan sopan santun, berbicara harus pula dilandasi oleh ketulusan, jauh dari rasa sombong, penuh perhatian, dan sikap positif lainnya. Harus diingat, bahwa lawan bicara biasanya bukan sekadar memperhatikan materi pembicaraan, tapi juga sikap kita. Dan biasanya, bila sudah merasa nyaman dengan sikap, maka banyak pembicaraan bisnis yang berjalan lebih lancar.

Keenam, bersama siapa mengatakannya. Kadang, saat deal bisnis, kita perlu mengajak partner yang sepemikiran dengan kita dan mampu menempatkan diri. Sebisa mungkin, carilah pasangan yang cepat memuji dan lambat mengkritik. Sehingga, orang yang diajak bicara akan lebih mudah terbuka dengan kita. Usahakan pula, agar setiap yang kita sampaikan mengandung solusi yang membawa kebaikan bersama.

Dear Readers,

Kemampuan bicara sepertinya memang sepele. Namun, pepatah bijak “lidahmu adalah pedangmu” bisa menjadi gambaran tepat yang menunjukkan betapa kemampuan bicara adalah salah satu kunci emas berbisnis. Dengan pemahaman ini, diharapkan kita semua bisa lebih bijaksana sekaligus mampu bertahan di masa pandemi ini.

Salam sukses luar biasa!

Spread the love

Leave a Comment





Scroll To Top