Skip to content
Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Risiko dan Tantangan Akan Selalu Ada

Banyak orang yang merasakan kesulitan dalam mewujudkan impiannya, kemudian mencoba mengalihkan impiannya pada yang lain alias menyerah sebelum mencapai tujuan. Bahkan, ada pula yang benar-benar menyerah dan pasrah, tanpa berbuat apa-apa. Ujungnya—yang memilih ini—biasanya hanya akan jadi penggerutu, dan sering kali “menularkan” keluhannya pada orang di sekitar.

Padahal sejatinya, saat datang ujian, di sanalah kita sedang disuntik “vaksin” bernama virus kekuatan diri. Saat kesulitan menghadang, kita sebenarnya sedang digembleng untuk jadi manusia perkasa yang tahan banting untuk bisa mengatasi berbagai persoalan. Itulah mengapa, ada sebutan kawah candradimuka—di mana kawah merupakan “sumber panas”. Inilah tempat mereka yang berhasil “keluar” dari ujian, dan akan menjadi insan yang luar biasa dengan segala pencapaiannya.

Dalam sebuah pepatah bijak, ada kalimat jika tak dibajak, tanah tak akan bisa ditanami. Dalam pengertian sederhana, kita tahu bahwa tanah dibajak adalah proses yang dibutuhkan untuk membuat tanah menjadi gembur. Sehabis dipanen, biasanya tanah perlu “diremajakan” dengan membolak-balik tanah. Dalam proses ini, tanah seolah “disiksa”, karena terus dicangkul, diputar, diinjak, hingga dirasa sudah mencapai tingkat kesuburannya lagi, barulah bisa kembali ditanami.

Sebagai ilustrasi pengertian tersebut, mari kita petik hikmah yang terkandung dalam kisah berikut ini.

Alkisah, di sebuah lahan pertanian yang tanahnya siap ditanami, terdapat dua benih tanaman yang kebetulan bersebelahan. Benih pertama berkata, “Aku ingin tumbuh! Aku ingin akar-akarku menerobos ke dalam tanah di bawahku, dan mendorong tunasku menembus lapisan tanah di atasku. Aku ingin mengembangkan pucukku yang lembut seperti daun bunga untuk mengumumkan kedatangan musim berbunga. Aku ingin merasakan kehangatan sinar matahari di wajahku dan berkah embun pagi di kelopakku!”

Jadilah benih itu bertumbuh.

Benih kedua berkata, “Kalau akar-akarku menerobos ke dalam tanah, aku tidak tahu apayang akan aku temui di kegelapan itu. Kalau aku memaksa menembus lapisan tanah yang keras di atasku, aku mungkin akan merusak tunasku yang lembut. Bagaimana kalau aku membiarkan tunasku terbuka dan seekor siput mencoba memakannya? Dan bagaimana saat aku nanti membuka bungaku, seorang bocah mencabutnya dari tanah? Tidak ah, lebih baik kalau aku menunggu hingga keadaannya baik.”

Jadilah benih kedua ini menunggu saat yang tepat.

Tak jauh dari tempat ditanamnya benih itu, tampak seekor ayam betina sedang mengorek-ngorek tanah untuk mencari makanan. Dan akhirnya si ayam itu menemukan benih kedua yang tadi tengah menunggu waktu yang tepat. Lalu, si ayam itu langsung memakannya.

Pembaca yang luar biasa,

Dalam kisah tersebut, kita mendapati benih pertama berani memutuskan untuk bertumbuh, meski banyak risiko sedang menantinya. Sementara, yang kedua hanya berpikir untuk selalu menunggu saat yang tepat, yakni saat di mana ia berharap bisa bertumbuh jauh dari marabahaya. Padahal, keduanya sebenarnya menghadapi bahaya yang sama, sebagaimana juga keduanya menghadapi kesempatan untuk bertumbuh yang sama pula.

Kita memang tak bisa menebak apa yang akan terjadi di kemudian hari. Namun, kalau kita selalu tumbuh dengan kekhawatiran diri, maka kita hanya akan terkungkung pada persoalan yang tak akan membuat kita berkembang.

Dan, harus disadari pula bahwa risiko itu akan selalu ada. Baik kecil atau besar, sulit atau mudah, semua pasti akan berhadapan dengan beragam ujian dan tantangan. Sehingga, dengan kesadaran ini, kita akan mampu membuka cakrawala berpikir, bahwa sejatinya tak akan ada kesuksesan yang tanpa dibarengi dengan berbagai kegagalan.

Sekali lagi, sadari, bahwa semua makhluk diciptakan sering kali justru dengan “beban” agar ia menjadi kuat. Tak jarang orang diciptakan dengan berbagai kesulitan justru agar ia belajar banyak hal dengan mudah. Bahkan, kalau kita telusuri sejarah diri, pasti kita mendapati ada banyak tantangan di masa lalu yang kini berbuah menjadi hikmah hidup yang mencerahkan.

Mari, sadari diri agar mau “membajak tanah” dalam diri kita. Pastikan agar kita mau keras terhadap diri sendiri, sehingga dunia menjadi lunak terhadap kita.

Terus berusaha, terus berkarya, nikmati proses perjuangannya, maka sukses luar biasa, menanti kita!

Spread the love

Leave a Comment





Scroll To Top