Skip to content
Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Olimpiade Tokyo Tanpa Penonton Asing

Penonton asing akan dilarang memasuki Jepang untuk menyaksikan Olimpiade Tokyo (digelar 23 Juli hingga 8 Agustus 2021) untuk mencegah meluasnya pandemi Covid-19 serta melindungi para atlet, ofisial, penduduk, dan elemen lainnya dari virus Corona. Hal tersebut diumumkan oleh komite penyelenggara Olimpiade Tokyo pada 20 Maret 2021.

Ketua Komite Seiko Hashimoto menjelaskan dalam konferensi pers, bahwa keputusan itu dibuat oleh sejumlah pihak di Jepang—seperti pemerintah pusat, pemerintah metropolitan Tokyo, penyelenggara; dan telah diinformasikan kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC) melalui pertemuan virtual.

Risiko Besar

Mereka sepakat risikonya terlalu besar untuk menerima pemegang tiket dari luar negeri selama masa pandemi Covid-19. Meski jumlah kasus Covid-19 di Jepang relatif lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, India, Brazil, dan negara-negara Eropa lainnya namun, beberapa wilayah di Negeri Sakura—termasuk Tokyo masih dalam keadaan darurat. Dengan lebih dari 9000 kematian akibat Covid-19, saat ini Jepang disebut tengah mengalami gelombang ketiga pandemi.


Melihat kondisi ini, mayoritas masyarakat Jepang juga menentang kunjungan penonton dan suporter dari luar negeri. Beberapa survei menunjukkan bahwa hingga 80 persen menentang penyelenggaraan Olimpiade, dan persentase serupa menentang penggemar dari luar negeri hadir karena khawatir penyebaran virus Corona bisa bertambah luas. Ditambah lagi, fakta bahwa varian virus Corona yang lebih menular telah terdeteksi di banyak negara.

Hashimoto menuturkan, sebenarnya total 600.000 tiket telah terjual habis di luar Jepang untuk Olimpiade mendatang. ’’Semua biaya tiket itu akan diganti,’’ katanya. Tetapi tentunya, hal itu hanya berlaku pada pembelian dari agen penjual tiket resmi, yang menangani penjualan di luar Jepang. Lebih jauh, panitia mengatakan bahwa pihak penyelenggara tidak bertanggung jawab atas kehilangan uang pada reservasi penerbangan dan hotel, bagi yang sudah melakukannya.

Kerugian Tuan Rumah

Hashimoto, yang telah tampil di tujuh Olimpiade sebagai atlet dan meraih perunggu dalam speedskating pada 1992, mengaku semua pihak sebenarnya sangat menyesalkan keputusan itu. Namun keputusan itu merupakan hal yang tidak dapat dihindari demi kepentingan bersama yang lebih besar.

“Kami mengambil keputusan yang mungkin membutuhkan pengorbanan dari semua orang,” ujar Hashimoto.

Dari sisi Pemerintah Jepang sendiri, mereka telah mengeluarkan 15,4 miliar dollar AS (Rp 221,3 triliun) untuk menyelenggarakan Olimpiade. Seiring dengan berjalannya persiapan, panitia penyelenggara antara lain mengharapkan pendapatan 800 juta dollar AS (Rp 11,5 triliun) dari penjualan tiket. Kini, setiap kekurangan anggaran harus ditanggung oleh entitas pemerintah Jepang.

Para ahli ekonomi pun memprediksi Jepang akan kehilangan 150 miliar yen atau sekitar 1,37 miliar dollar AS—termasuk dari sektor pariwisata yang sebelumnya direncanakan tumbuh, namun kini justru tumbang. Memang masih ada para pengunjung domestik, tapi orang-orang asing yang berwisata di Jepang tercatat minimal mengeluarkan uang dua kali lipat lebih banyak.

Tetap Dukung Olimpiade Tokyo

Dengan segala keterbatasan yang ada, seperti dilarangnya penonton asing (termasukrelawan asing), pawai obor tanpa kemeriahan penonton, dan aturan pembatasan jumlah penonton lokal nantinya, sudah pasti Olimpiade Tokyo akan terasa berbeda, khususnya jika dibandingkan dengan Olimpiade sebelumnya. Meski demikian inti dari ajang ini tidak akan berubah, bahwa semua atlet akan memberikan kemampuan maksimal mereka untuk menginspirasi dunia.

“Meski para penonton banyak yang tidak bisa hadir, kami berharap Anda terus mendukung Olimpiade Tokyo,” tutup panitia.

Spread the love

Leave a Comment





Scroll To Top