Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Maafkan Dia

Dikisahkan, suatu hari saat pulang dari sekolah, tingkah si bungsu tiba-tiba menjadi pendiam, murung, dan lesu. Sang ibu, walaupun sedikit khawatir tapi tahu bahwa tidak lama kemudian anaknya pasti akan bercerita kepadanya.

Benar saja. Malam hari saat sekeluarga bersantai, si bungsu menghampiri ibunya dengan gontai dan berkata, ”Bu, tadi di sekolah aku dipanggil oleh pak guru ke ruangannya. Gara-garanya begini. Ibu jangan marah dulu ya…?”

Sang ibu menjawab sabar, ”Ya. Memangnya ada apa, Nak? Ibu akan mendengarkan.”

”Tadi ada teman perempuan menangis gara-gara diejek si Toni.. teman yang sering main kemari itu lho Bu. Temanku yang diejek itu, Mita, lapor ke guru. Nah terus Toni dipanggil ke ruang guru.”

Si bungsu melanjutnya ceritanya. “Bu, Toni mengadu ke pak guru kalau aku yang mengajari dia mengejek dan berbicara dengan kata-kata kotor. Aduh Bu, dia benar-benar keterlaluan. Memfitnah itu namanya. Ibu enggak percaya kan kalau aku yang mengajari Toni begitu? Benar deh Bu, aku tidak pernah begitu ke dia!”

“Keluar dari ruang guru, di depan kelas, Toni menangis Bu. Dia menyalahkan aku di depan kawan-kawan. Katanya gara-gara aku, dia kena hukuman!” Begitulah, dengan nada berapi-api si bungsu melepas uneg-unegnya.

Keesokan harinya dan beberapa hari berikutnya, kasus masih berlanjut. Beberapa teman menjauhi si bungsu karena justru dia yang dituduh sebagai biang kerok, penjahatlah, penyebar fitnah, dan lain-lain. Beberapa teman pun menyalahkan si bungsu, bahkan menyuruhnya minta maaf kepada Toni.

”Sungguh tidak adil, aku yang enggak salah, kok aku yang disuruh minta maaf…?” kata si bungsu mengeluh ke ibunya.

Ayahnya yang diam-diam mengikuti kisah putranya, memutuskan saatnya berbicara. ”Nak, kalau kamu merasa benar, tetap pegang kebenaranmu itu. Tetap berbuat dan berkata yang positif. Ayah yakin, sikap teman-temanmu itu hanya sementara saja. Nanti mereka pasti tahu siapa yang punya kualitas yang baik. Nah temanmu Toni, berbuat salah. Tidak ada salahnya, kan, kamu memaafkan dia?”

”Dia sudah begitu menyakiti aku. Apa untungnya memaafkan dia?” tanya si bungsu penasaran.

”Lho, lalu apa ruginya memaafkan dia?” jawab ayah sambil tersenyum. ”Coba perhatikan. Sejak kejadian itu, setiap hari kamu menggerutu melulu. Kamu merasa sebal, marah-marah, tidak konsentrasi belajar, dan tidak bahagia. Nah, apa untungnya kamu seperti itu? Maafkan Toni dan kembali bersikap seperti dulu lagi. Orang serumah bahagia. Kamu juga kembali gembira. Nah enggak rugi kan memaafkan itu? Damai dan nyaman bagi semuanya.”

The Cup of Wisdom

Kesalahan orang kepada kita, apapun bentuknya, jika terus kita simpan dan pikirkan, maka hati akan terus terasa panas alias bad mood. Konsentrasi kita di pekerjaan atau sekolah pun pasti akan terganggu. Tiba-tiba, kita menjadi mudah jengkel dan marah-marah terhadap hal lain yang mungkin tidak terkait sama sekali, seperti keluarga atau sahabat terkasih.

Maka di pengujung bulan Ramadhan ini, sungguh saat tepat kita mengingatkan diri, agar kita mampu menahan godaan nafsu, terutama amarah dan kebencian. Mari berlatih untuk memaafkan, mengampuni. Bukan sekadar ucapan di mulut saja, tetapi ikhlas dari lubuk hati. Agar Idul Fitri nanti menjadi momen kemenangan kita, dan makin dekat pula pada Sang Mahakuasa.

Salam hangat, luar biasa!!

Spread the love

Leave a Comment