Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Cinta Kasih Cicak

Kita mungkin punya kekasih yang begitu kita cintai. Atau orangtua atau sahabat yang kita sangat sayangi. Tapi, sebesar apakah cinta atau kepedulian kita?

Di sebuah rumah kayu yang tengah direnovasi, ditemukan seekor cicak yang terperangkap di antara celah kayu. Kakinya ternyata melekat pada sebuah paku. Selama bertahun-tahun, rumah ini tidak pernah direnovasi. Itu berarti si cicak sudah berada di sana cukup lama. Sang pemilik rumah merasa iba sekaligus penasaran. Bagaimana bisa si cicak bertahan selama itu?

Rasa penasaran membuat sang pemilik rumah memutuskan untuk menghentikan sejenak kegiatan renovasinya dan mulai mengamati cicak itu. Tak lama kemudian, muncul seekor cicak lain dengan membawa makanan di mulutnya.

Bayangkan, tanpa kenal lelah, cicak itu selalu berbuat yang sama sehingga cicak yang terperangkap tetap bisa hidup selama bertahun-tahun. Ia tidak melepaskan harapannya. Walaupun kondisi tampak tak memungkinkan, cicak penolong itu selalu datang dan datang kembali.

Cerita tersebut untuk kita renungkan. Akankah kita melakukannya hal yang sama kepada pasangan kita? Akankah kita berbuat kasih yang demikian kepada ibu kita, yang telah rela berjuang sembilan bulan lamanya selama kita di kandungan, kemudian melahirkan kita ke dunia? Atau akankah kita memberikan rasa sayang yang sama kepada ayah yang sudah terbaring sakit selama bertahun-tahun? Atau kepada sahabat, rekan kerja, atau saudara kita lainnya?

Sungguh luar biasa betapa makhluk sekecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan. Di zaman serba teknologi sekarang ini, sepertinya kita kalah jauh dengan hewan kecil ini. Dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, akses kita ke informasi semakin cepat dan cepat. Ironisnya, jarak antara sesama manusia malah semakin renggang.

Setelah membaca cerita ini, marilah kita lebih memperhatikan orang-orang yang kita kasihi. Mulailah dari keluarga kita sendiri!

Spread the love

Leave a Comment