Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Bertemu Kembali Setelah 22 Tahun


Orang tua yang berpisah dengan anaknya selama 22 tahun dan akhirnya bertemu kembali, sedang menjadi perbincangan di Tiongkok dan dunia. Ini bukan dongeng, namun kisah nyata dari Qian Fenxiang dan suaminya Xu Lida, yang bisa bertemu kembali dengan putri mereka Jingzhi. T


Kisah ini diketahui masyarakat ketika Jingzhi alias Catherine Xu Pohler (Kati), yang tinggal di Michigan, Amerika Serikat, menemui orangtua kandungnya di Broken Bridge, Hangzhou, Tiongkok. Kantor berita BBC memberitakan peristiwa mengharukan tersebut pada awal Desember 2017.

Terpaksa Meninggalkan Anak

Qian Fenxiang dan suaminya Xu Lida bercerita kepada wartawan, 22 tahun lalu mereka terpaksa meninggalkan putri kedua mereka di pasar. Keputusan Qian dan Xu itu, merupakan dampak dari kebijakan “satu keluarga satu anak” yang dikeluarkan Pemerintah Tiongkok sejak tahun 1979. Kebijakan ini membuat orangtua di Tiongkok harus melakukan aborsi jika mengandung anak kedua atau melakukan strerilisasi setelah anak pertama lahir.

Sang ibu yang kala itu berumur 24 tahun, tidak tega membunuh bayi dalam perutnya, saat hamil kedua kali. Menurutnya juga, walau tak bisa merawat putrinya, paling tidak ia bisa memberikannya pada orang lain.

Maka ia menyembunyikan kehamilannya, kemudian secara sembunyi-sembunyi melahirkan putri keduanya itu di rumah terpencil daerah Suzhou (120 km dari Hangzhou), dibantu seorang dokter klinik. Tiga hari setelah dilahirkan, Jingzhi ditinggalkan di sebuah pasar sayuran daerah itu, berikut kertas bertuliskan sebuah pesan.

“Putri kami, Jingzhi, lahir pada jam 10 pagi pada tanggal 24 bulan tujuh, tahun 1995. Kami terdesak melakukan ini karena miskin dan terpaksa meninggalkannya. Terima kasih telah menyelamatkan putri kecil kami dan membawanya ke perawatan Anda. Jika surga memiliki perasaan, jika kita mempunyai takdir, maka mari kita bertemu lagi di Broken Bridge di Hangzhou pada pagi hari, di Festival Qixi dalam waktu 10 atau 20 tahun dari sekarang,” demikian isi pesan tersebut.

Kemudian, bayi yang ditinggalkan itu ditemukan dan dirawat di panti asuhan setempat. Di tempat itulah pasangan asal Amerika Serikat, Ken dan Ruth Pohler bertemu Jingzhi. Pasangan itu sebenarnya sudah memiliki dua anak laki-laki bernama Steven dan Jeff, tapi menginginkan anak lain, jadilah mereka mengadopsi Jingzhi pada tahun 1996. Nama Jingzhi pun berubah menjadi Catherine, yang lalu akrab dipanggil Kati.

Pasangan asal Amerika itu lalu diberitahu pesan dari orangtua kandung Jingzhi. Mereka begitu tersentuh. Namun karena memikirkan dampak emosional yang mungkin terjadi, mereka memutuskan bahwa anak angkat mereka tidak akan tahu kebenaran sampai usianya dewasa. Mereka tidak akan mengungkapkan apapun, kecuali jika Jingzhi/Kati memang ingin tahu tentang masa lalunya.

Keterlibatan Media 

Pada tahun 2005, ketika putri mereka berusia 10 tahun, Qian dan Xu menepati janjinya dan tiba di Broken Bridge di Festival Qixi. “Kami sampai di sana lebih awal, membawa sebuah papan besar dengan nama putri kami dan kata-kata yang serupa dengan yang kami gunakan dalam pesannya. Kami pun mendatangi ke setiap gadis yang kami lihat di jembatan,” kenang Xu, sang ayah.

Di pihak lain, Ken dan Ruth mengirimkan kerabat mereka ke festival tersebut, untuk mengecek situasi sekaligus mengadakan pertemuan awal dengan Qian dan Xu.

Sayangnya, keterlibatan media setempat yang menyiarkan kisah ini secara besar-besaran, membuat keluarga Pohler bimbang, bahkan mengambil langkah mundur dengan memutus hubungan komunikasi. Mereka ingin melindungi Jingzhi/Kati dari pemberitaan media, dan ingin agar ia benar-benar mengerti keadaan, ketika kelak mengetahui identitas aslinya dan bertemua orang tua kandungnya.

Pembuat film dokumenter Chang Changfu, kemudian mendengar kisah tragis Qian dan Xu yang mencari putri mereka setiap Festival Qixi. Dari pelacakan di panti asuhan, Chang berhasil mengontak Ken dan Ruth Pohler. Namun keduanya tegas memutuskan hanya akan berhubungan lagi dengan Xu dan Qian hingga Jingzhi/Kati berusia 20 tahun.

Inisiatif Kati

Pada 2016, Kati Pohler yang berusia 21 tahun pergi ke Spanyol sebagai mahasiswa pertukaran. Dia bertanya kepada orang tuanya tentang masa lalunya. Mengingat Kati sudah cukup dewasa untuk mengetahui kisah seutuhnya, Ruth mengatakan kepada gadis itu bahwa dia mengenal orang tua kandungnya.

Kati kemudian bertemu Chang dan setuju untuk menjadi bagian dari dokumenternya tentang reuni istimewa dengan orang tua kandungnya, sekaligus kakaknya, Xiaochen. Mereka kemudian mengatur tempat dan waktu. Agar lebih “dramatis”, Qian dan Xu diminta agar tak bertemu dulu dengan putri mereka yang telah lama “hilang” sebelum festival.

Akhirnya pertemuan itu terjadi sesuai rencana dengan penuh haru dan emosional. Sang ibu langsung memeluk Kati dan terus meminta maaf karena telah menelantarkan sekaligus meninggalkannya. “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu,” katanya sambil menangis. “Akhirnya aku melihatmu.”

Walaupun terkendala bahasa, mereka tetap menghabiskan waktu bersama beberapa hari. Sang ayah tak henti menggenggam tangan Kati dan sang ibu seolah tak mau lepas dari pelukan Kati.

Kati, yang pada awalnya mengaku takut mengecewakan orang tua kandungnya, memamerkan kemampuannya bermain biola. Keluarga ini kemudian pergi ke pasar bersama, masak bersama, dan makan bersama, kemudian menyalakan petasan untuk merayakan pertemuan yang telah lama ditunggu itu.

“Aku pikir sejuta ucapan maaf tak akan cukup karena kami telah menelantarkannya,” kata sang ayah.

Namun Kati telah paham benar bahwa masa lalu bukanlah hal yang mudah bagi orang tua kandungnya. Mereka saat itu terjebak dalam suatu sistem yang mereka sendiri tak mau. 

“Saya senang melihat mereka, juga terkejut melihat betapa emosionalnya ibu saya,” kata Kati. Pertemuan tersebut memang sangat sulit bagi sang ibu dan ayah, yang telah mengalami banyak masalah selama bertahun-tahun dan hidup dengan penyesalan.

Orang tua kandung Kati berharap bisa menjalin hubungan baru yang baik. Namun ada sedikit hambatan bahasa dan budaya untuk keduanya.

“Kami kecewa karena dia tidak akan memanggil kami mama dan papa. Kami sudah memintanya, tapi dia bilang dia bahkan tidak melakukannya di Amerika. Budaya di sana adalah memanggil orang tua dengan nama depan mereka,” kata Xu.

“Kami juga tidak bisa berkomunikasi dengan penuh karena kami tidak bisa bahasa Inggris dan dia tidak bisa bahasa Mandarin. Tapi kami tahu dia gadis yang sangat baik, kami akan sangat merindukannya,” tambah Xu saat berada di bandara,  mengantarkan Kati untuk kembali pulang ke negaranya.

Kati berjanji akan belajar bahasa Mandarin dan juga budaya Tiongkok di masa kuliahnya.

Spread the love

Leave a Comment