Skip to content
Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

Ketra Oberlander: Menaklukkan Mata Buta dengan Melukis

Tepat memasuki usianya yang ke-40, mata penulis Ketra Oberlander menjadi buta.  Ia terpukul dan tiba-tiba saja merasa terkucil. Namun ia tak memilih terus meratapi nasib. Ia justru mencoba menggali potensi yang masih tersisa dalam dirinya. Melukis jadi harapannya. Dan ternyata berhasil. Ia tak hanya jadi pelukis tetapi juga pengusaha.

Ya, sering kali hal-hal yang kurang menguntungkan datang beruntun. Sebelum kejadian pertama berlalu kejadian berikutnya menimpa tak terhindarkan. Peristiwa bertubi-tubi itu bisa saja hanya sekadar kejadian kecil. Tetapi tak jarang berupa kejadian besar yang membekas seperti yang dialami oleh Ketra Oberlander.

Ketra mengalami kerusakan mata yang dikategorikan “buta” saat usianya menginjak 40 tahun. Padahal saat itu ia baru mengalami kemalangan lain setelah kariernya sebagai penulis berantakan. Profesinya berakhir karena industri dot com yang menjadi tulang punggung hidupnya di Silicon Valley hancur akibat goncangan krisis ekonomi yang melanda dunia.

“Seperti perusahaan yang divonis bangkrut, profesi saya  juga mengalami hal yang sama,” ia memberi perumpamaan. Malangnya lagi, profesi itu tak mungkin ditata ulang karena kondisi mata yang jadi buta sehingga Ketra benar-benar harus mengubur profesi yang dicintainya.

Bagaimana pun ini pengalaman yang berat. Butuh ketegaran untuk menerimanya. Tetapi Ketra bukan orang yang mudah menyerah. Meski ia bisa dimafhumi jika harus hidup dengan hanya bergantung sepenuhnya pada suami, ia memilih cara lain.  Cacat mata (ia hanya bisa melihat jika mata didekatkan pada objek sejarak sekitar sejengkal) yang baru diterimanya baginya bukan akhir dari segalanya. Masih ada potensi lain dalam dirinya yang bisa digali dan dikembangkan menjadi sesuatu yang mungkin malah bisa menjadi profesi baru yang luar biasa.

Suatu kali Ketra meminta suaminya, Simeon Leifer (seorang pembuat software), memotret close-up bunga di pekarangan rumahnya. Lalu dimasukkan ke dalam komputer. Dengan menampilkan gambar bunga di layar secara penuh dan tingkat kekontrasan yang tinggi, mulailah Ketra melukis dengan meniru bunga itu. Ia mendekatkan matanya pada layar sampai sekitar 10 cm jaraknya, begitu dekat. Lalu ia mengambil kuas, mencelupkannya pada cat, dan menyapukannya ke kanvas dengan wajah yang juga amat dekat pada objek yang dilihatnya. Caranya melukis itu seperti sedang mengendus-endus.

Akhirnya lukisannya jadi. Lukisan yang ia buat dengan sepenuh hati. Meski semula tak berharap lukisannya bagus, ternyata respon rekan-rekannya di luar dugaan. Lukisan itu disukai banyak orang. Untuk mengetahui respon lebih luas ia menitipkan lukisannya itu pada suatu pameran. Ternyata lukisannya mendapat penghargaan. “Saat itu saya langsung berseru, ‘Sekarang saya sudah menemukan profesi baru’,” ujarnya.

Ketra makin bersemangat melukis dan terus melukis. Lukisannya makin banyak. Suatu kali ia ingin memamerkan lukisannya. Ia bergabung dengan suatu komunitas pelukis yang membantunya berpameran.  Namun persiapan untuk pameran itu hampir membuatnya putus asa. Ia harus mengemasi lukisan-lukisannya yang akan dipamerkan, mencari teman yang akan membantunya, mencari sopir yang akan membawa lukisan-lukisan itu ke tempat pameran, menatanya di tempat pameran, dan sebagainya. “Bagi orang yang matanya terganggu, persiapan pameran ini bagaikan mau pindah rumah,” katanya. Itu melelahkan dan bikin putus asa. Belum lagi biaya yang dikeluarkan tak sedikit. Padahal belum tentu ongkos itu terbayar dari hasil lukisan yang terjual.

Ia berpikir, para penyandang cacat lain pun yang ingin melakukan pameran seperti dirinya pasti mengalamai hal yang sama. Dari situlah ia menemukan ide untuk memudahkan dirinya mengenalkan lukisannya pada publik sekaligus membantu penyandang cacat lain mendapatkan ruang publikasi dan mendapatkan uang.

Membangun Bisnis

Ide itu ia wujudkan dengan mendirikan Art of Possibility Studios (AOP Studios), studio yang mengumpulkan hasil karya lukis orang-orang cacat. Lewat usaha ini layanan yang diberikan Ketra tak cuma menampung. Ia juga jadi konsultan para pelukis cacat sekaligus jadi mediator mereka dengan dunia penikmat hasil karya lukisnya.

“Saya bukanlah pebisnis tapi saya tahu ada keuntungan di sana. Cepat atau lambat uang pasti akan datang. Bagi seniman penyandang cacat, mereka bisa meminta bantuan perusahaan yang dikelola orang normal untuk mendapatkan uang dari hasil lukisannya,” tutur Ketra. “Tetapi banyak hal yang tak diketahui orang normal dari seorang cacat. Karena itu untuk mengetahui sepenuhnya kebutuhan seniman cacat. bisnisnya harus dikelola oleh orang cacat juga. Untuk itulah AOP Studios berdiri,” paparnya.

Karya lukis, kata Ketra, memiliki posisi yang strategis di zaman modern ini. Ia bisa direproduksi ulang hingga jumlah yang tak terbatas. Bisa ditempelkan pada aneka produk mulai dari cangkir, gambar dinding, dan produk-produk lainnya.

Untuk menemukan semua kemungkinan itu Ketra melakukan riset. Ia meminta bantuan seseorang untuk mencari agen, pengurus lisensi, kolektor, perusahaan-perusahaan manufaktur yang menggunakan karya seni lukis dalam industrinya, dan sebagainya. Setelah itu ia menawarkan karya lukisnya untuk direproduksi.

Tentu saja tak mudah.  Ia harus meyakinkan mereka agar lukisannya mau mereka gunakan. Akhirnya sejumlah kerjasama ia dapat. Bukan karena kasihan tetapi karena karya-karya Ketra sendiri memang memiliki nilai seni yang tinggi. Pengakuan itu terlihat pula dari sejumlah award yang ia peroleh sejak tahun 2005 yang mencapai belasan. Lukisan Dragonfly-nya, misalnya, direproduksi oleh perusahaan handuk untuk digunakan sebagai motif handuk. Lukisan lainnya digunakan untuk motif kalung, baju, dan berbagai produk rumah tangga lainnya.

Sedangkan pelukis cacat yang ia rekrut untuk bergabung di perusahaannya ada beberapa orang. Ia menjadi konsultan mereka, menjadi agen mereka, dan medorong hasil karya mereka menjadi produk komersial agar mereka mendapatkan penghasilan sendiri, sesuatu yang dulu tak pernah mereka bayangkan.

Dalam berkarya, Ketra mendorong mereka untuk bekerja sepenuh hati. “Yang penting harus mencintai pekerjaan. Jika kita melakukannya tidak dengan cinta, konsistensi, dan integritas, semua itu justru akan membawa masalah. Dengan bekerja sepenuh hati berarti kita sedang membangun hidup yang lebih baik,” paparnya.

Ketra Oberlander, yang kini menginjak usia 60 tahun, memberi contoh dengan apa yang dilakukannya. Cinta, konsistensi, dan integritas melekat dalam dirinya. Ia bekerja sepenuh hati dan penuh semangat. Dengan semangat hidup yang menggebu kebutaan pun tak bisa menghalanginya. Dunia kini mengakuinya sebagai seorang pelukis yang berbakat. Tak hanya itu, tahun lalu ia juga dinobatkan sebagai pemenang penghargaan “Micro to Million”, penghargaan bagi pengusaha yang berhasil mengembangkan usahanya dari unit usaha kecil hingga menjadi usaha yang beromset jutaan dolar.

Ketra menunjukkan pada dunia bahwa potensi diri bisa terus digali. Tak ada halangan kendatipun cacat menghadang. Selama mau bekerja keras, sukses pasti didapat. Sukses adalah hak semua orang, hak bagi mereka yang mau bekerja keras.

Spread the love

Leave a Comment





Scroll To Top