Membangun kekayaan mental manusia demi kehidupan yang lebih bernilai

7 Langkah Kesabaran

Alkisah, di sebuah negeri, tinggallah seorang kakek tua yang terkenal karena kebijaksanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasihat. Suatu hari, datang ke situ, seorang pria muda. Sesampai di hadapan kakek, ia berkata, “Kakek, saya merasa tidak bahagia. Saya seorang pemarah dan punya emosi yang labil.  Tolong saya, bagaimana cara mengendalikan emosi yang cepat terbakar dan tidak terkendali ini?”

Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek bijak berujar lembut namun tegas, “Anak muda, perhatikan baik-baik. Setiap kali kamu tersinggung, marah atau terpancing emosi, ingatlah ‘tujuh langkah kesabaran’. Kamu harus melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju lagi tujuh langkah. Lakukan hal tersebut tujuh kali berturut-turut, dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah kamu boleh berpikir dan mengambil keputusan untuk bertindak.”

Merasa mendapat nasihat yang luar biasa, pria muda ini yakin, masalah emosi sulit terkendali yang dideritanya pasti bisa terpecahkan.

Malam telah larut ketika ia sampai kembali di rumah. Dengan badan yang letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar. Di dalam benaknya terbayang makan malam dan air hangat untuk mandi yang biasa disediakan oleh istrinya. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

Saat melihat pemandangan seperti itu, kemarahan pun segera menguasai dan emosi pun membutakan akal sehatnya. “Istri yang tidak setia. Baru ditinggal sebentar saja sudah berani memasukkan orang lain ke kamar…!” Dengan kemarahan yang meluap-luap, pria itu lantas berniat buruk. Tetapi, spontan dia teringat nasihat si kakek tua yang bijak, dan langsung  mempraktikkannya. Sambil menghembuskan napas kemarahan, ia mulai menghentakkan kakinya sepenuh tenaga. Suara hitungan segera terdengar, “Mundur tujuh langkah, satu-dua-tiga…! Maju tujuh langkah, satu-dua-tiga…!!” Kegaduhan itu pun akhirnya membangunkan sang istri.

Ketika istrinya bangun dan menyingkap selimut, betapa kaget sekaligus leganya pria itu karena ternyata yang menemani istrinya tidur adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Entah apa yang akan terjadi seandainya dia menuruti emosinya. Hidupnya pasti akan dirundung penyesalan seumur hidup.    

UCers yang Luar Biasa,

Kesabaran adalah “mutiara kehidupan” yang pantas dan harus kita miliki. Saat kita berjuang tetapi belum berhasil, kita membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam perjuangan bisa pula diartikan sebagai keuletan, ketekunan, atau mental tahan banting.

Ketika menghadapi orang lain yang sedang emosi, kita butuh kesabaran, tidak bereaksi berlebihan, dan mampu menahan diri. Lebih-lebih saat kita sendiri dalam situasi tersinggung. Kemarahan dan emosi kadang membutakan akal sehat. Saat itu, kita perlu rem berupa kesabaran. Kesabaran dalam konteks tersebut berarti suatu kematangan mental untuk mampu menahan diri dalam bertindak dan berucap, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Sadari, bahwa tanpa kesabaran, kita akan mudah terjebak dalam komunikasi negatif dan sulit menjalin hubungan sosial yang membangun. Tanpa kesabaran kita cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan tak terkendali yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya melatih kesabaran berarti memperkecil kemungkinan bersalah dan terjadinya penyesalan.

Pada kesempatan ini pula, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan. Saatnya kita mengendalikan semua nafsu dan emosi. Semoga diberikan kelancaran dan kekuatan, dan menjadi pemenang saat Idul Fitri tiba nanti.

Spread the love

Leave a Comment